Kamis, 03 Juni 2010

Sehasta Dari Neraka


Seorang teman berkisah, tentang kawannya yang tinggal di samping masjid. Kawan itu, seorang pemuda yang telah bertaubat, bercerita tentang kejadian yang dialaminya. Tak lupa ia terus menyebut nama Alloh atas kebenaran cerita ini.

Alloh telah memberiku kenikmatan luar biasa dan menyelamatkanku dari neraka. Suatu ketika, jarak antara aku dan neraka hanya sehasta.

Aku mempunyai dua sahabat. Kami selalu berkumpul hanya untuk bermaksiat. Tiap tahun, kedua temanku pergi ke salah satu negara. Mereka bercerita bahwa di tempat-tempat itu semua dilaluinya dengan minum-minuman keras, zina, judi, lotre, dan sejenisnya.

Tahun lalu mereka mengajakku pergi bersama. Cerita-cerita tentang asyiknya berwisata dan tindak maksiat begitu melenakan sehingga tampak indah di mataku. Kami sepakat untuk bepergian dengan mobil agar lebih bebas bergerak dan leluasa menikmati indahnya perjalanan.

Aku duduk di kursi belakang, sedangkan kedua temanku di kursi depan. Mobil berjalan berkilo-kilo meter, entah sejauh apa aku tak mampu menghitungnya.

Di sebuah jalan, tiba-tiba pandanganku tertumbuk pada petunjuk jalan. Di situ tertulis: 150 km menuju jahannam.

Ya Alloh, aku terloncat dari tempat duduk. Kukatakan pada kedua temanku, “Tidakkah kalian baca?”

“Apa?” tanya mereka.

“Di petunjuk jalan tertulis ‘150 km menuju jahannam’.”

“Kamu stres, perlu istirahat,” enteng saja mereka menjawab. “Itu hanya imajinasimu saja.”

Aku terdiam. Setelah 50 km berlalu, kembali aku melihat papan nama: 100 km menuju jahannam.

Aku berusaha meyakinkan kedua teman itu. Kukatakan bahwa itu merupakan petunjuk dan teguran dari Alloh agar kami segera pulang dan bertaubat. Namun semua itu sia-sia belaka. Mereka tetap tak menggubrisku.

Apa boleh buat, aku memaksa meminta pulang. Dengan tanpa merasa bersalah, temanku menghentikan mobil. Aku turun, lalu menyeberang jalan, berbalik arah hendak pulang. Sementara kedua temanku tetap meneruskan perjalanan, dengan kendaraan yang tampak makin terpacu kencang.

Waktu itu pukul tiga malam. Hampir satu jam lamanya aku menunggu mobil tumpangan, namun tak kunjung aku dapatkan. Tiba-tiba datang sebuah truk besar. Kuucapkan syukur Alhamdulillah. Tangan aku lambaikan untuk menghentikan laju kendaraan itu.

Truk berhenti. Aku bergegas naik.

Aneh, sopir yang baik hati itu tak mengajakku bicara satu patah kata pun. Mulutnya justru berulang kali sibuk mengucap, “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.”

“Ada apa?” ingin tahu apa yang terjadi, aku bertanya.

“Di jalan tadi ada kecelakaan. Sebuah mobil hangus terbakar. Penumpangnya ada dua, semua terpanggang api,” katanya terpatah-patah.

“Aku berusaha menolong, anmun api telah melahap mereka,” lanjutnya.

“Apa warna mobilnya?”

Pak sopir menceritakan dengan detail tentang warna dan segala ciri-cirinya.

Aku tercengang. Itu mobil temanku!

Air mataku tumpah. Kuucapkan tahmid kepada Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa karena berkenan menyelamatkanku dengan karunia dan rahmat-Nya.

Ya Allah aku memohon kepadaMu Ilmu yang bermanfaat, yang mendekatkan diri kami kepadaMu dan kami berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat Ilmu yang menjauhkan kami dariMu. Allahumma Amiin.
[Kembang Anggrek]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar